Sementara lawan Anies-Sandi dalam putaran kedua waktu itu (Ahok-Djarot) diusung oleh PDIP, Golkar, Hanura dan NasDem. Serta partai pendukungnya PPP, PKB, PKPI dan PSI.
Dari temuan survei lainnya yang juga dilakukan oleh Jakarta Research Center (JRC) tentang tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Anies Baswedan ternyata menunjukan bahwa 53,0% warga Jakarta tidak puas. Sedangkan yang puas hanya mencapai 38,9%. Serta sisanya 8,1% tidak tahu/tidak menjawab.
Ini rupanya diduga berkorelasi positif terhadap menurunnya elektabilitas dari parpol yang dulu mengusung serta mendukung Anies Baswedan, yaitu Gerindra dan PKS.
Sementara Perindo dan Partai Ummat sebagai pengusung Anies-Sandi memang sudah tidak terbilang lantaran selama ini tidak pernah bersuara apa-apa. Sehingga partisipasi politiknya boleh dibilang nihil kalau tidak mau dibilang cuma sekedar partai oportunis.
Sementara itu Partai Golkar sebagai parpol paling senior dan paling berpengalaman makan asam garam dalam kancah politik memang boleh dibilang tangguh juga.
Setelah beberapa kali mengalami prahara internal dalam level petingginya rupanya Golkar cukup trengginas dalam adaptasi politiknya.
Sementara ini masih tercium persaingan (mungkin boleh juga dibilang perseteruan) antara Ketum Airlangga Hartarto dengan Bambang Susetyo yang amat berambisi untuk naik ke kursi RI-1.
Ada temuan menarik yang dilakukan Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) tentang tokoh parpol yang paling cocok menjadi presiden tahun 2024.
Hasilnya menyebutkan bahwa Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar Airlangga Hartarto elektabilitasnya tertinggi, 17,6%!
Disusul Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto 15,6%, kemudian Sandiaga Uno 13,7%. Selanjutnya ada Puan Maharani dan Ketum PKB Muhaimin Iskandar masing-masing 9,6%. Ada juga Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 9,0%. Presiden PKS Ahmad Syaikhu 8,3%, Jusuf Kalla 5,9%, Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan politisi Nasdem Ahmad Syahroni masing-masing 4,8%.
