Tetapi Menhan Prabowo, saya yakin, tahu kapasitas dan potensi raksasa industri sekaliber Mitsubishi Heavy Industries atau Kawasaki Heavy Industries. Dan dia tajam melihat peluang masih kalahnya pasar industri pertahanan Jepang pada skala global, justru bisa menjadi keuntungan bagi kerjasama industri pertahanan Indonesia.
Tensi akibat klaim teritorial di Laut Cina Selatan justru telah membuka peluang-peluang baru untuk kepentingan suatu diplomasi, dengan Cina sebagai “musuh bersama” yang menyatukan para pihak lain yang berkepentingan.
Saya pernah menulis beberapa waktu lalu, sejak Menhan L.B. Moerdani, baru Menhan Prabowo Subianto ini yang punya “diplomatic stature”, karena faktor intelektual dan kemampuan bahasanya. Moerdani sangat fasih bahasa Inggris dan Belanda, bahkan kadang bergaya “archaic”; Prabowo fasih bicara Inggris, Jerman dan sedikit Perancis.
Presiden Soeharto dulu tidak salah pilih Menhan, juga tidak Presiden Jokowi sekarang ini.
Kita masih ingat bagaimana Moerdani dulu menggertak Menlu Australia Gareth Evans dengan menutup selat Timor— mereka yang paham hukum laut soal hak “innocent passage” (UNCLOS, artikel 19) pasti tahu ini kelakuan kurang ajar dibalik alasan Benny “exercising our sovereignty”. Hari ini kita sedang menyaksikan bagaimana Prabowo memainkan diplomasi Laut Cina Selatan untuk kepentingan pertahanan Indonesia.
Menhan Prabowo jeli melihat peluang psikis “friend in need is friend indeed” di pihak Jepang, yang pasar global industri pertahanannya di PHP terus oleh para mantan di pihak Sekutu PD II. Hahaha…
(Josef H. Wenas, Yogyakarta 29 Maret 2021)
