Apa yang selama ini dipropagandakan sampai menjadi semacam idola (idols, idolatry, berhala) mesti kembali dirobohkan. Demi manusia Indonesia yang menjadi lebih unggul. Mungkin semacam ubermenchs (superhuman)nya Nietzsche, kenapa tidak. Untuk mencapai itu, segala berhala yang menghalangi penjelajahan bebas ke segala arah yang mungkin, mesti berani dikritisi, bahkan dirobohkan.
Arena perpolitikan di Indonesia mesti naik kelas, mesti jadi lebih berkualitas, Lebih berbobot dan lebih bermutu narasi-narasi politiknya. Untuk itu Indonesia mesti masuk dalam era dimana berhala-berhala politik mengalami senjakala. Demi menyongsong cerahnya fajar budi yang sudah menanti di cakrawala seberang sana.
Beranilah menyeberang, menerobos gelap malam, ada terang fajar di ufuk timur. Seperti aforisme Nietzsche yang bilang, “I am a forest, and a night of dark trees: but he who is not afraid of my darkness, will find banks full of roses under my cypresses.”
Para elit politik dan partai politik bukanlah dewa yang selalu benar. Dan rakyat bukan juga kerbau yang gampang dicocok hidung untuk akhirnya malah digiring ke pembantaian.
Mereka yang tak tahan kritik dan kecut dalam penjelajahan ini boleh masuk keranjang sampah. Karena hidup adalah keberanian menghadapi tanda tanya.
(13/01/2020)
Oleh: Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa
