Apakah atap rumah warna-warni itu bisa berfungsi sebagai penolak bala dengan mantra zero run-off? Agar-supaya-dengan-demikian-maka hujan turunnya bisa lebih sopan sedikit?
Tidak terus-terusan hujannya seperti ini? Hujan beruntun seperti ini hanya mengingatkan Anies pada cerocosan mulutnya Ahok, ini khan vangkeee… nightmare!
Mundur sedikit ke belakang,
mungkin Anies bisa menjawab yang ini saja deh, itu pohon-pohon Mahoni yang katanya dulu sedang dalam perawatan apakah mungkin sudah meninggal? Apakah sudah pernah di-bezoek? Terpapar Covid-kah mereka? Kalau sudah meninggal, lalu dimakamkan dimana ya? Dan apakah lahan pemakamannya benar-benar ada?
Atau,
apakah mahoni-mahoni itu sudah bermetamorfosa menjadi meubel? Sehingga sulit dilacak oleh intel-intel melayu kita.
Tapi Nies, ini ada sisi lain dari perkara banjir, mengutip Roland Barthes (Mythology, 1972),
“…karena banjir itu menggantikan objek-objek tertentu, menyegarkan persepsi kita tentang dunia dengan memperkenalkan ke dalam dunia pelbagai hal yang belum terbiasa tetapi dapat dijelaskan. Kita melihat mobil direduksi menjadi bagian atapnya, lampu-lampu di pinggir jalan dipotong sampai hanya bagian atasnya yang muncul di atas permukaan seperti bunga bakung air, rumah-rumah dipotong seperti permainan balok anak-anak, seekor kucing terjebak di atas pohon selama beberapa hari.”
“Semua objek sehari-hari ini tampaknya mendadak terpisah dari akarnya, tercabut dari substansi rasionalnya yang sangat baik, Bumi…”
Jadi, bagaimana kita ‘merayakan’ Jakarta yang kebanjiran ini?
