Kelima, buku Atas Nama Derita. Ini kumpulan cerpen esai jeritan batin di era Virus Corona.
Secara jenaka, cerpen esai dapat dikatakan keponakan dari puisi esai. Ia sama persis. Bedanya, yang satu berbentuk puisi. Yang lainnya berbentuk cerpen.
Fungsi catatan kaki dalam cerpen esai juga sentral. Ia peristiwa nyata, awal dari kisah yang dicerpenkan. Tentu ada fiksi. Ada dramatisasi.
Di samping bentuknya, buku ini istimewa karena saya melahirkannya di era badan terkurung di rumah. Virus corona memaksa semua menghindari ruang publik.
Lahirlah delapan cerpen esai, sebagai dokumen jeritan batin banyak kisah di era virus corona. Ada aktivis agama yang dikarantina di mesjid. Ada kisah dokter yang wafat menolong pasien.
Ada kisah pedagang kecil yang bangkrut. Ada kisah warga yang mati kelaparan. Pula ada cerita soal satu komunitas dikarantina karena mayat penderita virus corona dibawa pulang. Juga ada kisah warga yang menolak jazad korban virus untuk dikubur di wilayahnya.
Pandemik melahirkan banyak drama. Saya memulai merekam aneka kisah ini dalam cerpen esai.
Delapan cerpen itu dibuatkan film pendek. Christine Hakim, Reza Rahadian, Lukman Sardi, Ine Febriyanti, Marini, Agus Kuncoro, Ray Sahetepy, dan lain lain, bermain untuk film pendek.
Buku ini penting sebagai rekaman batin era pandemik. Dua puluh tahun dari sekarang, 8 film pendek dari 8 cerpen esai itu akan menjadi saksi zaman.
Keenam, buku Renungan Peradaban. Catatan Perjalanan Lima Benua.
Satu hobi saya adalah melancong, melihat, merasakan suasana peradaban besar, kuno, unik, di luar sana.
Selama 20 tahun belakangan, tak terasa saya sudah melancong ke semua benua. Total saya menyusuri sekitar 30 negara. Sayapun membuat catatan dan renungan.
Saya pun napak tilas mulai dari peradaban tua, Piramid di Mesir. Melihat jazad Mao Tse Tung di Cina, dan Lenin di Rusia. Kedua jazad itu awet dibekukan dengan bahan kimia.
Saya mengunjungi Korea Utara, menyaksikan bagaimana diktator dipuja. Tak lupa mengunjungi teater William Shakespeare, museum Winston Churchil, Nelson Mandela hingga Museum Seni nomor satu dunia: Lovre Museum.
Banyak kontroversi dalam buku itu. Mulai dari kisah Nabi Musa yang sangat mungkin Ia bukan tokoh sejarah. Nabi Musa adalah tokoh yang diciptakan untuk kisah moral. Juga penguasa tertinggi di Korea Utara dijabat oleh orang yang sudah mati.
Begitu kaya bumi Tuhan. Banyak keunikan, keragaman, yang dapat diambil hikmah. Makanan batin yang lezat.
Ketujuh, buku Nabi Baru Atau Penjahat Rohani. Ini buku kumpulan resensi film.
Hobi saya yang lain menonton film. Saya memiliki perpustakaan yang sangat saya banggakan. Koleksi semua film pemenang oscar sejak tahun pertama (1929), hingga lima tahun lalu (2015).
Juga saya kumpulkan koleksi film pemenang festival Cannes. Juga pemenang festival film Berlin.
Juga saya mempunyai koleksi film yang masuk dalam 100 top box office. Tak lupa 100 film terbaik pilihan AFI (American Film Institute).
Saya berhenti mengoleksi film ketika internet menyediakan banyak sekali web film yang bisa ditonton. Kini hadir pula Netflix, Disney Plus dan Amazon Prime.
Saya menonton 73 Episodes dari Series Film House Of Cards. Ini intrik di dalam istana yang sangat dramatik. Jika setiap episode durasinya 50 menit, total sekitar 68 jam saya habiskan waktu tenggelam di dalam serial ini.
Pengetahuan soal kekuasaan jauh lebih banyak saya peroleh dengan menonton 73 episodes film ini dibanding 5 tahun saya kuliah Ph. D dibidang politik.
Saya lebih menyukai film yang berlandaskan true story. Di samping tetap dapat menghayati drama dan katakter para tokoh, juga saya belajar mengenai sepotong sejarah di dalamnya.
Total ada sekitar 40 judul film yang saya review. Tentu saja saya tidak mereviewnya dengan standard umumnya reviewer film yang menguasi teknis film. Saya lebih mengutamakan sisi gagasan dan lessons to learn.
Menonton film membuat kita hidup berkali- kali. Belajar kearifan berulang-ulang. Dengan menonton film, kita masuk seolah menjadi karakter utama di film itu. Sekaligus kita mengalami drama seolah kisah itu kita alami sendiri.
Kita marah. Menangis. Takut. Berani. Melompat penuh harapan.
Selesai film, kitapun keluar dari layar. Terdiam. Mengambil hikmah. Dan kembali menjadi diri sendiri dengan wawasan yang bertambah.
