Maka dari itu, lanjutnya, impor tersebut harus dihenyikan dan digagalkan. “Harus dihentikan,” ungkap tokoh kelahiran Bagan Siapi-api itu.
Sementara itu, Ketua Umum APPSINDO, Hasan Basri, menyikapi impor beras disaat beras masih memenuhi gudang Bulok tentu sangat merusak citra Presiden di dalam kondisi ekonomi yang terpuruk akibat pandemi covid-19 dan apalagi impor tersebut menimbulkan polemik antar pejabat terkait yang berwenang.
“Oleh sebab itu Aliansi Pedagang pasar Seluruh Indonesia (APPSINDO) menghimbau kepada pemerintah agar menjalankan kebijakan yang terkait dengan kepentingan publik lebih menggedepankan kepentingan nasional dari pada kepentingan pengusaha tertentu yang mungkin juga mafia beras,” sambung Hasan.
Lebih lanjut Hasan menjelaskan, APPSINDO berharap dalam rangka menghindari kegaduhan masalah impor beras sebaiknya pemerintah terlebih dahulu membicarakan antar instansi terkait.
- DPC Peradi Banyuwangi Menyelenggarakan Acara Dirgahayu Peradi ke-21
- Rapat Paripurna, DPRD Kota Malang Sampaikan Laporan Banggar Dan Raperda Perubahan APBD TA 2025
- DPRD Malang Kota Rapat Pansus Penyertaan Modal BPR Tugu Artha
- DPRD Kota Malang Setujui Perubahan APBD, Wahyu Hidayat Optimis PAD Sesuai Target
- DPRD Malang Kota Laksanakan Rapat Paripurna Perubahan ABPD 2025 encapai 2,5T
“Hingga adanya keputusan satu suara dalam menggambil kebijakan impor. Jelas impor beras yang telah menjadi polemik di masyarakat membuktikan kebijakan pro petani jauh api dari panggang, artinya pemerintah tidak peduli kepada rakyat khususnya petani,” ia menuturkan.
APPSINDO sebagai organisasi pedagang pasar di seluruh indonesia, sambungnya, memohon kepada instansi yang memaksakan impor beras dapat segera menghentikan kebijakanya demi kepentingan rakyat “ALUS POPULI SUPREMA LEX” Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.
“Jika instansi tersebut masih memaksakan impor beras patut dipertanyakan nasionalis pejabat tersebut diduga telah melakukan perbuatan melawan hukum dan bagian dari kejahatan terhadap negara ibarat pagar makan tanaman,” pungkasnya
Dafid)
