Bagaimana menjelaskan fenomena di atas? Apa yang dapat kita pelajari dari data yang membuka mata?
Pertama, moral publik di pemerintahan TIDAK ditentukan oleh banyak atau sedikitnya mereka yang meyakini agama. Tapi korupsi itu lebih ditentukan oleh manajemen modern.
Manajemen modern untuk korupsi itu berdiri di atas prinsip: kontrol internal pemerintahan yang efektif. Hadirnya lembaga pelacak korupsi. Bebasnya investigasi oleh media dan civil society. Rule of law dan sanksi hukum kepada koruptor. Dan kuatnya etik pemerintahan.
Manajemen modern, bukan agama, yang membuat pemerintahan bersih. Jika ingin menegakkan moralitas publik, rekomendasinya: tambahkan dosis manajemen modern. Bukan tambahkan dosis agama di ruang publik.
Kedua, agama bukanlah satu satunya sumber moralitas publik. Apalagi agama yang ditafsir secara sempit, yang ingin memonopoli surga hanya bagi kelompoknya.
Apalagi kini hadir 4300 agama pula yang berbeda-beda.
Terbukti 9 dari top 10 negara paling bersih tingkat korupsi, mayoritas menganggap agama tak lagi penting dalam hidupnya.
LALU JIKA BUKAN AGAMA, APA SUMBER MORALITAS ITU?
Homo sapiens sudah berusia 300 ribu tahun. Agama dominan masa kini hanya berusia paling jauh 3000 tahun.
Sebesar 300 ribu tahun dikurangi 3000 tahun, artinya 99 persen dari usia homo sapiens sudah hidup tanpa agama yang ada sekarang.
Renungan baik dan buruk dalam rangka survival sudah hidup dalam DNA manusia sejak lama. Bahkan sebelum agama yang dominan sekarang hadir.
Prinsip baik dan buruk itu tersimpan lebih kuat dalam akal budi manusia modern. Walau tak meyakini agama, prinsip benar dan salah itu tetap menyala.
Fakta menunjukkan itu. Di Denmark, atau Swedia, hanya di bawah 20 persen menganggap agama penting dalam hidupnya. Toh mereka berhasil menegakkan pemerintahan yang bersih korupsi. Ini ruang publik yang sangat bermoral.
Apakah ini berarti peran agama tak lagi penting di zaman modern? Jawabnya: tergantung bagaimana agama itu ditafsirkan.
Jalaluddin Rumi sangat populer di dunia barat karena ia menafsirkan agama secara universal. Tafsirnya menyatukan manusia, bukan membelah. Tafsirnya mengajak pada kedalaman: mengontrol kebersihan prilaku dari dalam.
Tafsir agama jenis Jalaluddin Rumi ini tak hanya membawa kebahagiaan otentik bagi individu. Tapi tafsir ini juga fungsional bagi ruang publik di dunia modern, yang semakin netral dari dominasi satu agama.***
CATATAN
- Data dunia tentang level korupsi
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Corruption_Perceptions_Index
- Data dunia tentang pentingnya agama bagi warga negara
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Importance_of_religion_by_country
- Departemen agama di Indonesia justru yang paling korup
https://amp.kompas.com/nasional/read/2011/11/29/02410859/Kementerian.Agama.Terkorup
- Bahkan tiga menteri agama di penjara karena korupsi
- https://m.merdeka.com/peristiwa/sudah-dua-menteri-agama-di-indonesia-terjerat-kasus-korupsi.html
(Tim/Deny JA)
