Justru semakin Tommy Soeharto menggugat dengan – maaf – agak ngawur seperti itu (lantaran status lahannya pun masih sengketa), maka postur politik pemerintah pun malah semakin menguat.
Tinggalah sekarang para pemirsa, para konsumen berita dan informasi (yaitu kita semua rakyat kebanyakan), mesti kritis dan berani mengambil sikap yang tegas dan jelas.
Tak usah bimbang dan bingung dengan ulah dari banyak politisi karbitan yang tak jelas visi dan misi kebangsaannya.
Untuk itu memang kita mesti rajin membaca yang berusaha untuk mau memahami latar belakang wacana sosial politik yang mencuat ke ranah publik dan memang cukup penting untuk disikapi.
Karena mamang begitulah agar daya kritis masyarakat bisa terbangun dengan baik dan akhirnya bisa ikut berpartisipasi dalam suatu wacana atau diskursus publik yang mencerahkan dan mencerdaskan. Bukan model debat kusir.
Bekal penting yang harus jadi fondasi mental dan karakter setiap partisipan dalam diskursus publik adalah sikap adil sejak dari pikiran. Karenanya, pendidikan budi-pekerti dan moral sejak kecil baik di sekolah maupun dalam lingkungan keluarga menjadi imperatif.
Karena sungguh kita sangat membutuhkan,
“…and education which teaches critical thinking and encourages the development of mature moral values.” – Pope Francis.
(27/01/2021).
Oleh : Andre Vincent Wenas, Direktur Kajian Ekonomi, Kebijakan Publik & SDA Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB).
