Dulu di sekitar tahun 1930an Indonesia juga pernah jadi eksportir gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba. Sekarang kita jadi importir gula terbesar di dunia. Ironis.
Apakah hal serupa ini bakal terus-terusan terjadi juga di industri garam? Bukankah ini ironis bagi sebuah negara maritim?
Sekedar informasi, beberapa negara yang biasa jadi pemasok garam industri ke Indonesia adalah: Australia, tahun 2017 nilainya: USD 76,09 juta dan tahun 2016: USD 70,33 juta.
Lalu disusul India (2017: USD 5,75 juta, 2016: USD 12,56 juta). Kemudian Selandia Baru (2017: USD 1,16 juta dan 2016: USD 1,22 juta). Denmark (2017: USD 203,22 ribu dan 2016: USD 126,66 ribu). Jerman (2017: USD 158,18 ribu dan 2016: USD 1,03 juta). Negara lainnya (2017: USD 275,20 ribu dan 2016: USD 757,43 ribu).
Jadi di tahun 2017 kemarin nilai importasi garam kita mencapai USD 83,5 juta (sekitar Rp 1,2 trilyun). Tahun 2016: USD 86 juta (sekitar Rp 1,25 trilyun).
Jokowi sempat menyentil jajarannya yang tahu betul mengenai hal ini namun tidak pernah mencari solusinya secara komprehensif. Jokowi pun mengakui, selama ini persoalan garam hanya disikapi melalui jalan pintas, yaitu impor.
- DPC Peradi Banyuwangi Menyelenggarakan Acara Dirgahayu Peradi ke-21
- Rapat Paripurna, DPRD Kota Malang Sampaikan Laporan Banggar Dan Raperda Perubahan APBD TA 2025
- DPRD Malang Kota Rapat Pansus Penyertaan Modal BPR Tugu Artha
- DPRD Kota Malang Setujui Perubahan APBD, Wahyu Hidayat Optimis PAD Sesuai Target
- DPRD Malang Kota Laksanakan Rapat Paripurna Perubahan ABPD 2025 encapai 2,5T
Akhirnya,
Garam, kalau ditabur pada porsi yang pas akan melezatkan, tapi kalau kebanyakan ditabur malah akan jadi pahit!
Supaya tidak pahit, bikin strategi nasional untuk ekspor garam saja. Optimalisasikanlah potensi alam (garis pantai) kita.
Sabtu(20/03/2021)
Oleh :Andre Vincent Wenas
