Namun problematika klasik dari para pendiri kerajaan bisnis Asia, ketika sudah jadi sangat besar mereka tidak bisa melepasnya kepada profesional untuk mengoperasikan bisnis dalam rambu-rambu ‘good corporate governance’.
Seperti kejatuhan Noble sebelumnya, Hong Leong Trading pun mirip, keduanya masih disetir langsung oleh sang pendiri. “In terms of similarities (between Hin Leong and Noble), it both goes down to dominant founders who continue to operate with little checks and balances as the business grows,” begitu pendapat dari Prof. Mak Yuen Teen dari NUS Business School.
Seperti diketahui, dalam tiga tahun terakhir ini, Singapura telah melihat jatuhnya dua nama besar lain di industri trading ini, yaitu Noble Group dan Agritrade. Keduanya juga ditengarai bermain nakal yang mengakibatkan kerugian sampai amat sangat besar bahkan kolaps.
Akibat pandemi Covid-19 telah membuat stagnasi gerak perekonomian. Harga jual minyak di level pedagang besar seperti Hin Leong pun ikut ambruk. Gerak ekonomi yang berhenti secara mendadak telah membuat timbunan minyak Hin Leong mandeg tak terjual. Kapal-kapal tankernya pun mangkrak. Perusahaan merugi besar. Dan malapetaka Hin Leong Trading pun terkuak ke publik.
Neraca yang mencatat utang sekitar 4 milyar dolar tak terjamin oleh aset yang ‘cuma’ 714 juta dolar. Masalah besar! Saat Hin Leong mendaftarkan diri ke pasal perlindungan kebangkrutan maka gegerlah dunia persilatan.
Para bankir pun kaget. Siapa saja mereka? Kabarnya HSBC masih ada tagihan sekitar 600 juta dolar, DBS kena 290 juta dolar, OCBC 250 juta dolar, dan UOB 140 juta dolar.
Otoritas Singapura pun turun tangan demi meminimalisir petaka akibat skandal ini. Tiga lembaga pemerintahan sekaligus, Enterprise Singapore, the Maritime and Port Authority of Singapore and the Monetary Authority of Singapore.
Mereka mesti otak-atik otak (plus otot) untuk memitigasi dampak kolapsnya Hin Leong. Dikhawatirkan implikasinya meluas pada dunia trading Singapura yang merupakan ‘hub’ dari hampir 80% korporasi terbesar dunia di sektor komoditi migas, baja, pertambangan dan agrikultur.
