Sedangkan menurut Andi Purnama,ST.MT selaku pengamat kebijakan publik dan pembangunan di Banyuwangi menyampaikan, “
Inisiasi kegiatan proyek yang akan dieksekusi, berawal dari rencana program kebutuhan yang disusun sebagai Rencana Umum Pengganggaran, dan benar-benar pertimbangan skala prioritas di masyarakat sekitar,” ungkapnya.
“Dan selain itu semua haruslah berbasis suatu proposal yang terdokumentasi, tahap demi tahapnya. Tahapan ini masih dalam Milestone Ide dan Konseptual. Setelahnya baru ditajamkan dalam Tahapan DEFINISI, dokumen berupa hasil dari Dokumen Studi dan Analisa Data sudah menghasilkan Kelayakan yang menjawab Yes or No nya diteruskan pada tahap Perencanaan bahkan Drawing For Constructionnya sudah tersaji dalam dokumen Penyertaan Tender/Bidding,” papar Andi kepada media.
Andi juga menambahkan, “Proyek-proyek yang telah dieksekusi tetapi tidak dapat beroperasi dan mangkrak, diperlukan investigsi. Bila permasalahan ringan saja, tetapi dapat mangkrak bisa dipastikan, seluruh tahapan sampai eksekusi, merupakan kegiatan yang tersusun atas dokumen manipulatif, dokumen yang bersifat dokumen-dokemen menyusul dengan asumsi Pelaksana Jasa yang nantinya akan melengkapi dokumen yang sebenarnya tidak ada, akan di ada-adakan sebagai bukti backdate, supaya keuangan yang bersumber dari negara berhasil dikeluarkan akibat Kolusi Manipulatif antara Pejabat Kegitan dan Pelaku Penyedia Jasa, Hal seperti inilah yang merupakan tindak PIDANA, jerat ranahnya bisa Pemalsuan Penggunaan dan Korupsi,” Imbuhnya kepada media saat dimintai pendapat kamis, (15/4/2021).
Sementara pejabat pembuat komitmen sekaligus juga sebagai kuasa pengguna anggaran waktu itu adalah Tjatur Hidayat Nugroho, selaku Kabid Pembangunan dan Pengembangan di PU Pengairan Banyuwangi belum bisa dimintai keterangan hingga saat ini, dimana tim media sudah mendatangi selama 4 hari dikantor beliau serta menghubungi baik melalui sambungan telepon maupun pesan whastapp tidak ada respon dan jawaban.
Apakah seperti ini kinerja pejabat publik yang tidak pernah ada dikantor, dan cenderung sangat sulit untuk ditemui maupun dihubungi oleh media.
(irul/Tim).
