Menjadi penulis, itulah cita cita pertama saya ketika tumbuh remaja. Tumbuh sebagai remaja yang sering kesepian, introvert, jarang gaul, senang menyendiri, saya banyak menghabiskan waktu dengan membaca.
Saya ingat masa remaja itu. Berjam jam saya menghabiskan waktu berdiri di antara rak di toko buku. Saya ingin mengesankan sedang memilih-milih untuk membeli buku. Ini agar tak diusir penjaga toko.
Padahal saya tak punya uang. Berdiri di sana hanya karena ingin membaca bab pengantar dan kesimpulan buku secara gratis.
Betapa senang saya ketika teman menceritakan soal perpustakan Idayu di Kwitang, Jakarta. Seharian saya bisa menghabiskan waktu di sana. Hanya dengan menjadi anggota perpustakaan, saya akhirnya bisa membaca banyak buku secara gratis.
Tak lagi saya harus membaca sambil berdiri seperti di toko buku. Tapi bisa membacanya sambil duduk santai.
Buku biografi tokoh dunia, renungan filsafat, novel terjemahan, kisah agama, sejarah, itu menjadi topik favorit.
Di masa mahasiswa, sayapun dipaksa menjadi penulis yang mengharapkan honor. Ibu saya bercerita tak punya dana yang cukup untuk biaya kuliah hingga selesai. Kadang saya diminta Ibu menjual sisa perhiasan emasnya untuk biaya kuliah dan hidup.
Sayapun bertekad membantu Ibu. Saya harus mencari uang, setidaknya membiayai kuliah dan hidup saya sendiri. Satu satunya kemampuan yang saya miliki saat itu hanyalah menulis.
Dimulailah era hidup saya menjadi penulis koran. Menjadi kolumnis. Menulis kolom itu sebuah corak menulis yang berbeda. Umumnya, Ia merespon isu yang sedang aktual dan dibicarakan.
Begitu banyaknya saya menulis kolom. Pada semua koran dan majalah populer, saya pernah menulis kolom di sana.
Di satu masa, semua kolom saya di koran dibukukan. Ditambah dengan kerja saya menjadi host talk show di TV dan radio juga dibukukan. Total menjadi 20 judul buku.
Apapun topik tulisan, tapi saat itu motifnya sama. Saya menulis untuk mencari nafkah, untuk membayar uang kuliah, untuk hidup, dan ingin juga terkenal.
Zaman berubah. Hidup saya juga berubah. Kini saya menulis tak lagi untuk mencari nafkah. Menulis bagi saya justru untuk berderma.
Saya mendermakan pengetahuan dan pengalaman melalui tulisan. Jika dibukukan, saya memilih membagikannya secara gratis.
Sudah hampir empat puluh tahun saya menulis. Terasa terjadi evolusi yang mendasar dalam dunia saya selaku penulis.
Dimulai dengan menulis untuk mencari nafkah hidup. Lalu berevolusi menjelma menulis untuk berderma. Dimulai dari menulis berharap imbalan financial. Lalu berevolusi menjadi menulis dan menolak mendapatkan imbalan financial dari tulisan.
