Tentu saja sikap Cina ini mengundang reaksi menentang dari negara-negara di kawasan sekitar Laut Cina Selatan. Kapal-kapal perang Amerika Serikat pun sudah beberapa waktu belakangan wira-wiri di perairan yang dianggap mereka bukan perairan Cina tetapi dianggap sebaliknya oleh Cina. Ini provokasi bagi Cina.
Maka tensi di Laut Cina Selatan meningkat juga.
Tetapi kepentingan utama hari ini bagi Indonesia saya kira kenyataan bahwa Jepang merupakan mitra dagang terbesar kedua Indonesia dengan total nilai perdagangan US$ 24,3 miliar. Selain Jepang sebagai investor keempat terbesar di Indonesia, data ekspor Indonesia ke Jepang harus dijaga bahkan ditingkatkan. Tahun 2020, ekspor Indonesia ke Jepang sebesar US$ 13,6 miliar atau bertengger di peringkat 14.
Jadi, bagi Indonesia “a free and open Indo-Pacific region” amatlah penting untuk dijaga status quo-nya agar tidak ada gangguan “premanisme suatu negara” di jalur laut ekspor kita menuju Jepang.
Sebaliknya, saat ini Jepang sedang ada kepentingan mengekspor defense equipment mereka ke Asia Tenggara. Jepang memang dilarang memproduksi peralatan perang setelah kalah dalam PD II, itu bagian dari perjanjian damai dengan pihak Sekutu sebagai pemenang perang.
Tetapi sebetulnya sudah sejak 1950 ketika tensi di semenanjung Korea meningkat, Amerika Serikat sendiri yang meminta Jepang agar memproduksi “maintenance materials” untuk keperluan Jenderal MacArthur sebagai Komandan Pasukan PBB disana (sebelum dia dipecat oleh President Truman setahun kemudian, sekalipun Jenderal bintang 5 ini secara brilian telah menang dan mampu menghabisi pengaruh Cina di Korea)
Sejak itu, in the course of time, Jepang “bermain” diantara klausul-klausul perjanjian satu ke perjanjian lainnya, dan mulai mengembangkan industri pertahanan dalam negerinya. Sampai akhirnya diplomasi Shinzo Abe melalui formula “Three Principles on Transfer of Defense Equipment and Technology” tertanggal 1 April 2014, berhasil meyakinkan para pihak, dan melalui formula itu “the restriction on arms export was officially lifted.”
Itu sudah berlalu tujuh tahun lalu. Dan Jepang memang sampai hari ini masih berjuang untuk mengambil posisi pasar di “global defense market”. Mereka berusaha jual pesawat patroli laut P-1 ke Inggris, gagal, kalah bidding sama Amerika Serikat. Coba jual kapal selam Soryu’s class ke Australia, kalah bidding sama punya Perancis.
