Dikatakan Anton, yang bakal dia jual salah satunya adalah ikon ritual budaya tradisional “Keboan Aliyan”. Karena sejauh ini, dengan digelarnya ritual ‘Keboan” di setiap tahun yang jatuh pada bulan Suro, ribuan warga masyarakat Banyuwangi, luar kota, bahkan turis mancanegara selalu berdatangan tanpa woro-woro maupun diundang.
“Karena ritual budaya “Keboan Aliyan” ini juga sudah masuk kalender tahunan Pemkab Banyuwangi, dan sudah menjadi “Ikon” desa kita, sehingga seperti mengalir begitu saja massa dan wisatawan berdatangan. Namun selain itu, masih banyak lagi potensi lain yang bisa kita suguhkan, baik seni budaya, wisata alam berupa pemandangan persawahan dengan ratusan ‘Kiling’ nya dan perbukitan maupun wisata kuliner tradisionilnya,” paparnya.
Terpisah, Ketua BPAN AI Alief Hudi Widayat didampingi Ketua Dewan Pembina, Hakim Said, SH, menyatakan kesiapannya untuk melakukan pendampingan Desa Aliyan menuju “Desa Wisata Budaya Aliyan”.
“Kami bersama tim BPAN AI Insya Alloh siap bersinergi 3KO dan melakukan pendampingan. Karena sebagaimana tupoksi lembaga kami, Desa Aliyan adalah ‘aset negara’ yang memang seharusnya kita kawal pemberdayaannya di semua tingkat sektoral,” tegasnya.
(red/Hkm)
