Mungkin saja bukan maksud dari manajemen (komisaris dan direksi) AXA Mandiri untuk melakukan penipuan. Ini jelas berbeda kasusnya dengan skandal dunia asuransi yang menjebloskan Jiwasraya, Asabri dan mungkin juga WanaArtha yang terindikasi terlibat dalam perputaran dana haram sindikat Benny Tjokro (terdakwa utama kasus Jiwasraya-Asabri).
Apalagi jika PresDir AXA Mandiri, Handojo G. Kusuma, dalam pernyataan persnya baru-baru ini mengatakan bahwa pencapaian kinerja mereka yang positif ini tidaklah terlepas dari hasil kerja sama tim. Mulai dari tenaga pemasarannya, para karyawan, mitra bisnis, hingga dukungan dari para pemegang saham AXA Mandiri.
Program transformasi bisnis AXA Mandiri berbasis digital telah terbukti mampu mengerek kenaikan kinerjanya. Teknologi digital dioptimalkan penggunaannya untuk meningkatkan kualitas pelayanan serta menaikan produktivitas para Financial Advisor (FA)nya.
Di sisi lain, teknologi digital itu juga bisa memberikan kemudahan kepada para nasabah untuk terhubung dan mendapatkan pelayanan dari AXA Mandiri.
Lalu bagaimana dengan para nasabahnya yang saat ini tergabung dalam segmen “nasabah sakit-hati”, mereka yang kecewa dengan pelayanan atau jelasnya telah (merasa) “ditipu” oleh (para FA) AXA Mandiri?
Tentu saja mereka harus segera mendapat perhatian khusus. Kalau perlu manajemen AXA Mandiri membentuk tim khusus untuk segera menuntaskan perselisihan ini. Bukan untuk debat kusir dengan para nasabahnya, namun untuk menemukan solusi antara trio: Manajemen AXA Mandiri, para FA (Financial Advisors atau agen asuransi), serta yang terpenting dengan para nasabahnya.
Mesti diidentifikasi ada dimana persisnya yang jadi soal dari setiap kasus yang terjadi. Ya harus kasuistik, kasus per kasus. Ini memang pekerjaan yang menantang, tidak mudah dan mungkin perlu nafas panjang dan mental baja. Mesti kerja keras dan kerja cerdas.
Bagi para nasabah, yang sudah jadi “korban” atau bakal calon nasabah asuransi, cermatilah betul-betul setiap lembar polis sebelum menandatanganinya. Jangan cuma mengandalkan “cuap-cuap” para FA.
