Diamati akhir-akhir ini, sementara pihak memakai jargon Pancasila (juga NKRI) hanya untuk kamuflase sesaat. Sekedar alat saja untuk menutupi motif aslinya. Apa motif aslinya?
Motif yang sesungguhnya sebetulnya bertentangan dengan Pancasila (dan NKRI). Saat kelompok ini tertekan, mereka dengan mudah mengalihkan wacana publik untuk masuk ke isu komunisme, isu kapitalisme, isu cina, isu diskriminasi ormas, isu kriminalisasi ulama dan lain sejenisnya, yang terhadap itu semua dianggap bertentangan dengan Pancasila.
Lalu dengan enteng mereka “meminjam” jargon “Demi Pancasila” dan “Demi NKRI” hanya sebagai alat sementara untuk “menyelamatkan diri”. Semacam kamuflase politik.
Lalu soal Politisasi Jokowi. Apa itu Politisasi Jokowi? Ini musuh dalam selimut. Yaitu mereka yang memakai nama besar Jokowi untuk secara klandestin (diam-diam) menjalankan operasi politiknya sendiri. Operasi politik apa?
Ya jelas operasi oportunisme politik. Lantaran mereka sadar bahwa diri atau kelompok atau partainya sesungguhnyalah tak punya kredibitas sosial yang cukup tinggi dibanding nama Jokowi.
Maka mereka pun dengan lihai melabel dirinya sebagai ‘Jokowers’ dan kerap bertindak over-acting dalam membela Jokowi, masuk dalam barisan Jokowi namun pada hakekatnya hanya untuk menutupi operasi bancakannya sendiri.
Inilah operasi serigala berbulu domba: Politisasi Pancasila dan Politisasi Jokowi.
Waspadalah… waspadalah!!!
Begitulah buah bincang-bincang saya dengan sahabat, Ustad Taufik Damas, baru-baru ini.
(27/03/2021).
Oleh: Andre Vincent Wenas
