Apa tidak bosan? Berapa besar energi bangsa yang larut percuma hanya untuk mengurusi soal-soal tak berfaedah macam itu?
Masih terlalu banyak urusan lain yang jauh lebih penting untuk diurusi oleh bangsa ini. Pandemi pun bikin situasinya jadi lebih menantang untuk disikapi lewat kekompakan, solidaritas yang ekstra solid dari segenap anak bangsa.
Energi bangsa masih sangat dibutuhkan untuk membawa bangsa ini – bersama bangsa-bangsa lain – untuk pertama-tama keluar dengan selamat dari pandemi ini.
Konstelasi regional dan internasional pun mesti mendapat perhatian, pemikiran serta aksi politik yang adekuat. Negara yang dikaruniai sumber daya alam (SDA) melimpah seperti Indonesia ini membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang juga bermental limpah-ruah (abundant mentality) serta cerdas.
Bukan mentalitas baperan, gampang tersinggung, pikiran kotor serta bersumbu-pendek yang gampang disulut oleh isu murahan.
Masih ada tantangan bersama untuk merawat bumi sebagai rumah bersama (isu lingkungan global), menyudahi berbagai perang dan kekerasan, memperjuangkan skema perdagangan dunia yang jauh lebih adil serta yang bisa membawa kesejahteraan bersama.
Siapa pun, dari latar belakang agama apa pun, sudahlah… hentikan semua ucapan atau tindakan yang dapat menyinggung perasaan sesama saudara sebangsa dan setanah air.
Di Hari Kartini ini, kita masih punya optimisme di penghujung gelap. Asalkan kita tetap mau untuk berjalan beriring bersama. Fakta perbedaan (kebhinnekaan) itu adalah realitas kebangsaan kita.
“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita, lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” – R.A. Kartini
Kapan terang itu terbit? Segera setelah kita semua membuka mata hati.
21/04/2021
Oleh : Andre Vincent Wenas, Direktur Kajian Ekonomi, Kebijakan Publik & SDA Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB)
