Disisi yang lain, partisipasi Pilkada belumlah signifikan, sebab yang menjawab selalu ikut memilih dalam setiap Pilkada hanya sebesar 71,26 persen, kadang-kadang ikut 15,44 persen, biasanya tidak ikut memilih 6,50 persen, tidak pernah ikut memilih 1,81 persen, belum pernah ikut karena belum punya hak pilih 0,71 persen dan tidak tahu/tidak jawab 4,28 persen.
Tak hanya itu, rilis MRSBN pun mengungkapkan fakta mengejutkan, bahwa politik identitas masih dominan sebagai rujukan pemilih di Kabupaten Buru Selatan. Dimana, alasan utama dalam menentukan pilihan di Pilkada Buru Selatan turut dipengaruhi oleh kesamaan suku dan jazirah sebesar 31,44 persen, agama 20,63 persen, kinerja, prestasi dan rekam jejak 17,41 persen, kesamaan ideologi politik 15,99 persen dan lainnya 14,53 persen.
“Dari hasil survey tersebut menempatkan pasangan AJAIB sebagai pemenang, unggul dalam keterpilihan diikuti oleh pasangan MANIS pada posisi kedua dan pasangan SMS-GES pada posisi ketiga. Namun mengingat Undecided Voters yang masih cukup besar dan margin eror 5 persen, maka kemungkinan perubahan posisi pada hari H masih terbuka secara dinamis,” jelasnya.
Katanya lagi, dengan angka 26,11 persen yang terbuka terhadap money politik, maka kewaspadaan terhadap tindakan praktis dapat mengurangi pergeseran elektabilitas yang tidak normal.
“Kerawanan konflik dan manipulasi data menjadi perhatian serius untuk pelaksanaan Pilkada yang damai dan bersih,” paparnya.
Hasil survey ini pun memberikan gambaran bahwa segmentasi atau politik identitas masih ditemukan cukup dominan pada Pilkada Kabupaten Buru Selatan sebesar 52,07 persen.
Untuk diketahui MRSBN sebelumnya juga pernah melalukan survey pada Pilpres Tahun 2019 yang memenangkan Presiden-Wakil Presiden, Jokowi-Ma’ruf Amin dan Pilkada Kota Ambon Tahun 2017 yang memenangkan Walikota-Wakil Walikota Ambon, Richard Louhenapessy-Syarif Handler. (*red)
