Kawasan-kawasan perkotaan yang telah mengalami banjir sampai berulang-ulang tidak bisa dengan gampang ‘blame it on the rain!’ Ini jelas ada tindakan pembiaran selama ini dari administrasi kota yang tidak bertanggungjawab. Periksa dan usut semua penyimpangan RTRW yang pernah terjadi!
Mesti diusut tuntas, mengapa saluran-saluran irigasi kota yang mestinya bisa mengantisipasi banjir tidak berfungsi? Bagaimana kondisi rumah-rumah pompa, tanggul serta kanal-kanalnya? Bagaimana dengan pengelolaan sampahnya? Dan lain sebagainya.
Dan tentu saja mesti dievaluasi dan diperiksa kembali dengan sangat teliti mengacu pada rancangan tata-kota atau RTRW tadi itu. Dimana semua aspek kewilayahan (lingkungan, sejarah, kesehatan, komersial, pendidikan, dll) itu semua seyogianya sudah masuk dalam semesta perancangannya.
Jangan lagi jadikan RTRW atau rancangan tata-kota yang baik (humanis, dengan segala aspeknya itu) cuma jadi komoditi dagangan dari sementara oknum di balai-kota atau kantor-kantor pemda.
Kalau itu yang masih terjadi, itu namanya bencana akal sehat, bukan lagi semata bencana alam.
Untuk merencanakan yang baik saja sudah gagal, bagaimana pula mau mengeksekusinya dengan baik? Inilah bencana akal sehat, sekaligus juga kejahatan besar terhadap kemanusiaan.
Adagium penutup: “If you fail to plan, you are planning to fail!” Begitu ujar Benjamin Franklin. Dan itu tragedi!
Minggu (17/01/2021).
Oleh: Andre Vincent Wenas
Catatan
https://www.kompasiana.com/andrevincentwenas/60039fb2d541df30ea1c4593/bencana-alam-atau-bencana-akal-sehat
