Home » Ilmu Hakikat Menurut Syekh Abdul Karim Al-Jilli

Ilmu Hakikat Menurut Syekh Abdul Karim Al-Jilli

by admin
35 views

Banyuwangi :radarapublik.net– Mempelajari ilmu hakikat, atau oleh sebagian ulama disebut ilmu billah, bagi sebagian masyarakat, khususnya di pesantren masih dianggap sesuatu yang tabu karena dianggap ‘membahayakan’ tatanan syariat. Narasi demikian sengaja dibangun oleh sebagian Ulama dan berkembang di tengah-tengah masyarakat demi melindungi mereka agar tidak tersesat karena terlalu dalam masuk ke wilayah ilmu yang sifatnya batin. Dampaknya, banyak masyarakat yang enggan terlalu dalam mempelajari ilmu hakikat dan mencukupkan diri pada ilmu syariat.

Narasi diatas sebenarnya mendapatkan legitimasi dari perkataan Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq r.a yang sangat masyhur “Kesadaran akan ketidakmampuan mencapai pengetahuan (tentang Allah) sejatinya adalah pencapaian pengetahuan (tentang Allah) dan membahas tentang Zat Allah adaah bentuk kekufuran dan kesyirikan”. Hanya saja, pengamalan kita terhadap dawuh Sayyidina Abu Bakar tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan maksud yang seharusnya.

Yang sering kita jumpai, justru perkataan tersebut dijadikan dalil untuk tidak mempelajari ilmu hakikat, padahal tidak demikian. Dawuh Sayyidina Abu Bakar diatas semata harus dipahami sebagai larangan untuk mengetahui keadaan zat Allah yang sebenarnya. Karena, setiap usaha untuk mengetahui, melihat dan mendeteksi kesejatian zat Allah akan sia-sia. Justru yang terjadi adalah orang tersebut akan jatuh pada penyerupaan Allah dengan sesuatu, nauzubillah.

Itu sebabnya, Imam Ahmad Bin Hambal r.a memperingatkan “Apapun yang terlintas di hatimu tentang Allah, maka itu bukan Allah”. Dan, lintasan hati dan pikiran tentang Allah terjadi karena kita memikirkan zat Allah. Itulah yang dilarang oleh Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq r.a, bukan larangan mempelajari ilmu hakikat.

Sebagian ulama memang melarang kita mempelajari ilmu hakikat. Namun, larangan tersebut menurut Syaikh Abdul Karim Al-Jili, dalam kitab Marotibul Wujud (hal 38), bukan karena mempelajari ilmu hakikat itu tidak boleh. Tapi, karena menghindarkan orang-orang yang tidak memiliki kecerdasan berpikir dari kesesatan akibat salah memahami perkataan ulama-ulama ahli hakikat.

Baca juga:  Asisten Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kunjungi Kantor PETAKA Banyuwangi

Beliau berkata, “Adapun larangan yang datang dari sebagian Ahlullah (ulama ahli hakikat) terhadap murid-murid mereka untuk mempelajari kitab-kitab hakikat, karena murid yang tidak memiliki kecerdasan berpikir dikhawatirkan akan memahami perkataan-perkataan ahli hakikat tidak sesuai yang dikehendaki. Akhirnya, mereka akan mengamalkan menurut pemahaman yang salah, lalu mereka jatuh ke dalam kebinasaan. Atau, setidaknya mereka telah menyia-nyiakan umur mereka dengan mempelajari kitab-kitab hakikat tanpa adanya faidah yang mereka dapatkan. Maka melarang murid yang seperti ini dari mempelajari kitab-kitab hakikat adalah kewajiban seorang Syaikh, supaya mereka menyibukkan diri dengan sesuatu yang lebih bermanfaat”

Adapun orang yang memiliki akal yang cerdas, pemahaman yang tinggi dan keimanan yang kuat maka, menurut Syaikh Abdul Karim Al-Jili, mempelajari kitab-kitab hakikat dan merengkuh maksud yang terkandung di dalamnya sangat dianjurkan. Beliau lalu berkata “Dan sungguh saya melihat di zaman kita sekarang orang-orang dari  Arab, Persia, India, Turki dan negara-negara lain, mereka dapat mencapai ilmu hakikat sebagaimana wali-wali Allah karena sebab mempelajari kitab-kitab hakikat”.

Related Articles